Akibat PETI di Limapuluh Kota Sungai Kampar Tercemar Warga Minta Alat Berat Jangan Masuk



Limapuluh Kota, SagoNews - 
Kondisi memprihatinkan terus bergulir di jagad media sosial, tentang Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Limapuluh Kota yang tak henti-henti nya. Lokasi PETI tersebut diantaranya berada di Nagari Galugua, Kecamatan Kapur IX yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. 

Berdasarkan sumber rahasia redaksi ini, setidaknya di Galugua dan sekitar daerah aliran sungai (DAS) ada 45 alat berat yang mengeruk hasil bumi, meski kini hanya tersisa 18 hingga 20an alat, namun dampak yang terjadi tetap sama. Sama-sama merusak dan bahkan menghancurkan !

Nelson Mandella, pernah mengingatkan ; "sebenarnya kita hanya meminjam tanah, dari anak-cucu," tentu pesan moral tersebut sangat dalam maknanya, terutama bagi pelaku PETI. 



Berdasarkan kiriman foto drone dari sumber rahasia, alam di Galugua sudah bisa disebut hancur. Sayangnya, pemerintah daerah sebagai instrumen penting eksekutor kebijakan, belum ada reaksi. 

Pemerintah daerah kabupaten Limapuluh Kota yang saat ini di komandoi oleh bupati Safni, sama sekali tidak ada reaksi. Belum ada relis Humas terkait PETI Galugua atau siaran video sebagaimana bupati pernah membuat video untuk menjaga kehormatan dirinya. 

Tentu, sebagai bupati, tampuk-tangkai Kabupaten ini berada di tangan Haji Safni. Jangan sampai ada daerah yang dianak tirikan. Jangan sampai ada nagari yang tak pernah dapat perhatian. 

Masyarakat Galugua butuh emas untuk tambahan pemasukan, tapi masyarakat lain juga butuh lingkungan yang terjaga hingga ke anak cucu. Jika alat berat terus dibiarkan masuk, tentu kerusakan demi kerusakan akan terus terjadi. 

Sudah saatnya bupati Safni, mengerahkan Aparat Penegakan Hukum (APH) untuk menertibkan tambang Galugua. Bukankah menjaga marwah daerah, juga sama dengan menjaga marwah bupati ? 

(Fadli Riansyah)