"Ibrahim dan Tutur Bahasa Seorang Ayah"
Intisari Khutbah Idul Adha 1447 H
Oleh: Eddi Rusydi Arrasyidi, M.Pd.
Menariknya, Al-Qur’an mendeskripsikan tentang gaya bicara dan tutur bahasa Nabi Ibrahim kepada isteri dan anaknya melalui pola komunikasi yang hangat, dialogis, dan sarat empati. Pada masa ketika budaya patriarki sangat kuat dan seorang ayah bisa saja memaksakan kehendak tanpa ruang diskusi, Ibrahim menghadirkan model kepemimpinan keluarga yang jauh melampaui zamannya...
Tergambar ketika Ibrahim menerima perintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Dalam logika kekuasaan seorang ayah, Ibrahim sebenarnya dapat langsung memerintahkan anaknya tanpa penjelasan panjang. Namun Al-Qur’an justru merekam percakapan yang sangat manusiawi. Ibrahim berkata dengan panggilan yang lembut, “Wahai ananda tercinta...” Sebuah sapaan penuh sastra, sarat makna kasih sayang dan cinta. Dilanjutkan dengan komunikasi dialogis, “Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Sebuah pola komunikasi yang sejajar, bukan membangun ketakutan, melainkan membangun sebuah kesadaran di hati anaknya...
Pola komunikasi seperti ini terasa semakin relevan hari ini. Banyak orang tua merasa sudah memberikan fasilitas terbaik kepada anak-anaknya, tetapi lupa menghadirkan bahasa yang nyaman dan penuh keakraban. Dan, Nabi Ibrahim memberi pelajaran, bahwa kelembutan bukan tanda kelemahan seorang ayah namun menjadi ungkapan santun yang akan melahirkan kepercayaan dan kedekatan batin anaknya. Karena anak yang dihargai pendapatnya akan tumbuh dengan keberanian sekaligus rasa hormat kepada orang tuanya...
Begitu pula dalam hubungan Ibrahim dengan isterinya, Sayyidah Hajar. Ketika Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah tandus Makkah atas perintah Allah, peristiwa itu bukan sekadar kisah pengorbanan, tetapi juga gambaran kepercayaan dalam komunikasi keluarga. Hajar sempat bertanya, “Apakah ini perintah Allah?” Dan Ibrahim menjawab dengan keyakinan yang tenang. Jawaban singkat itu cukup membuat Hajar percaya dan menerima keadaan. Di sini tampak bahwa komunikasi yang dibangun melahirkan kepercayaan yang kokoh hingg terwujudnya demokratisasi di dalam rumah tangga...
Bagi kita, kisah Nabi Ibrahim AS tidak hanya menjadi cerita sejarah yang dibacakan di mimbar-mimbar agama, tetapi pelajaran hidup yang sangat kontekstual untuk berkeluarga. Dunia mungkin berubah dengan cepat, teknologi semakin canggih, dan pola hidup semakin kompleks, tetapi hati manusia tetap membutuhkan kelembutan yang sama. Sebagai seorang ayah, Ibrahim telah memberi teladan bahwa bahasa yang lembut mampu melahirkan generasi yang kuat, taat, dan penuh cinta...
Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H

