Faktanya, masih banyak kita temukan lembaga pendidikan yang alergi dengan strategi "Marketing" pada lembaganya. Seolah-olah kita masih berfikir bahwa membangun citra dan branding institusi adalah dosa kapitalisme. Padahal sebenarnya mereka lupa bahwa masyarakat modern tidak hanya mencari sekolah yang bisa mengajarkan doa sebelum makan juga tidak sekedar mengejar target hafalan Al-Quran, tetapi menjadi lembaga yang mampu menjamin kualitas layanan, kompetensi lulusan, keamanan anak, literasi digital, dan masa depan yang jelas.
Maka, seharusnya pengelola lembaga pendidikan tidak lagi sibuk membanggakan tradisi, karena dunia pendidikan sudah bergerak dengan kecepatan inovasi. Sudah saatnya lembaga pendidikan Islam harus mulai bergerak dari pola pengelolaan berbasis kebiasaan menuju manajemen berbasis visi dan inovasi yang secara terus menerus mengikuti arus perkembangan digitalisasi.
Salam Edukasi,
Eddi Rusydi Arrasyidi
Praktisi dan Pemerhati Pendidikan

