Menapak Tilasi Hijrah Nabi; Keimanan, Persaudaraan dan Kesatuan Ummat

(Penulis bersama rombongan ziarah ke Gua Tsur, jejak sejarah Hijrahnya Nabi SAW.)

"Menapak Tilasi Hijrah Nabi; Keimanan, Persaudaraan dan Kekuatan Ummat"
Oleh: Eddi Rusydi Arrasyidi, M.Pd

Tinggal menghitung hari kita berada di akhir Dzulhijjah, artinya kita sudah berada di penghujung tahun 1447 H. Sungguh sebuah kenikmatan sekaligus kemuliaan ketika Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk kembali memasuki bulan Muharram di awal tahun 1448 H.

Muharram menjadi tonggak sejarah berawalnya perjalanan kegemilangan Islam melalui peristiwa Hijrah. Sebuah peristiwa yang menjadi pintu gerbang kemenangan dakwah Rasulullah setelah 13 tahun lamanya mengalami penindasan dan penyiksaan di tanah kelahirannya, Kota Makkah.

Amat teramat banyak hikmah dan pelajaran yang kita dapatkan dari peristiwa Hijrahnya Nabi dari Makkah ke Madinah. Diantara pelajaran itu adalah;

1. Mengokohkan Keimanan

Peristiwa hijrah menjadi proses seleksi diantara para pengikut nabi, siapa yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasulnya dan siapa yang tidak. Siapa yang rela meninggalkan harta dan keluarganya di Makkah memenuhi perintah hijrah, dan siapa yang tidak rela meninggalkannya.

Begitu juga sahabat utama, sebutlah Abu Bakar yang rela mendampingi Rasulullah bermalam di Gua Tsur hingga membiarkan tangannya digigit ular demi melindungi sang Rasul mulia. Begitu juga Ali bin Abi Thalib yang rela menggantikan posisi tidur Rasulullah saat rumah sahabatnya itu dikepung oleh para algojo Qurays dalam menjalankan misi membunuh Muhammad SAW.

2. Mengikat Tali Persaudaraan

Hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad setelah sampai di Madinah saat peristiwa hijrah adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Menyatukan mereka dalam ikatan ukhuwah dan keluarga yang membuat sahabat Muhajirin merasa di kampungnya sendiri. Begitu juga sahabat Anshor yang merasa muhajirin sebagai keluarganya sendiri.

Selain itu, meski Rasulullah dipercaya menjadi pemimpin tertinggi di Madinah saat itu, namun beliau tetap menghargai keberadaan non muslim di kota Madinah. Tiada terpetik niat di hatinya untuk melepaskan dendam atas sikasaan kaum kafir qurays ketika berdakwah di Makkah. Begitulah mulianya akhlaq Nabi Muhammad SAW junjungan kita..

3. Membangun Basis Kekuatan Ummat

Setelah menjalin persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar, Rasulullah membangun semangat kebersamaan mereka dengan bergotong royong memndirikan Masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan serta pusat pemerintahan dan kemasyarakatan di Madinah.

Rasulullah juga mengarahkan sahabat untuk melakukan perniagaan dan menguasai pasar dalam membangun kemandirian ekonomi ummat Islam saat itu. Karena beliau dan sahabatnya tahu bahwa ekonomi menjadi salah satu pilar kekuatan ummat.

Tiga hikmah itulah yg kemudian menjadi landasan utama bagi kita dalam membangun resolusi jiwa untuk mengisi hari-hari berikutnya. Dimulai dari penguatan iman di dada sebagai resolusi vertikal kita dengan Yang Maha Kuasa, kemudian mengokohkan ukhuwah dalam menguatkan hubungan horizontal sesama manusia, hingga kembali ke Masjid sebagai kekuatan bersama dalam mencapai tujuan mulia, yakni meninggikan Islam dan Kalimat-Nya.

Semoga Allah senantiasa memberikan kesempatan kepada kita untuk bisa menggali hikmah dari perjalanan sejarah kehidupan Rasulullah bersama keluarga, sahabat, dan para pengikutnya, serta selalu diberikan hidayah untuk bisa mengikuti jejak langkahnya dalam mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala...